Jewel Changi Airport – Mensinergikan Pariwisata dan Industri Kreatif

Industri pariwisata itu seharusnya berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi banyak orang bukan memberikan manfaat sekali lalu dilupakan orang begitu saja. Kalau kata orang Jawa “ngapoki” (baca: bikin jera). Bagaimana tidak bikin jera, sudah bayar mahal (berasa dipalak) lalu tidak ada kesan mendalam.

“Mas nggak usah membandingkan industri pariwisata negara tetangga dengan negara kita. Nggak apple to apple, mereka jualan apa kita jualan apa.”

Memang sih beda produk dan pasar tapi yang dihadapi masih sama-sama manusia yang gampang baper, butuh hiburan dan nggak bisa move on dari kenangan indah. Jadi jika ingin membuat wisatawan tanpa sadar merogoh koceknya dalam-dalam lalu dengan bahagia menggunakannya, memang harus membuat mereka bahagia lahir batin.

Maksudnya?

Akhir pekan lalu saya jalan-jalan ke Jewel, itu lho gerojokan yang konon air terjun buatan tertinggi di dunia. Desain atapnya berbentuk vortex menaungi bangunan seluas ribuan meter persegi . Ini belum apa-apa, karena ternyata Jewel ini merupakan hutan buatan dengan koleksi 2000 jenis tanaman dari seluruh di dunia.

Teman saya yang paham soal kontruksi berujar ” Bayangakan atap Jewel tanpa penyangga di tengahnya terbentang sejauh puluhan meter dengan beban air mengalir. Sungguh perhitungan kontruksi yang luar biasa membagi gaya ke bawah ke kisi-kisi pinggir atapnya. Luar biasa!”

Jika diperhatikan atap Jewel berpola segitiga dengan ruas yang semakin membesar di tengahnya dan kontruksi lebih rapat di bagian pinggirnya. Duh nampaknya pembahasa semakin berat. Oke kita kembali ke pembahasan yang lebih ringan.

Menjual Jewel

Semua orang bukan hanya penumpang pesawat yang transit di Changi dapat menikmati Jewel secara gratis. Jadi tidak mengherankan jika ketika dibuka kunjungannya membludak. Semua orang dari penjuru Singapura bahkan Asia Tenggara jadi kepo dengan keindahan Jewel.

Jewel seolah menjadi magnet baru bagi Singapura di tengah kelesuan ekonomi global yang berimbas kepada sektor pariwisata. Universal Studio, Garden Bay The Bay dan beberapa ikon wisata Singapura nampaknya tak mampu mendongkrak kunjungan wisatwan negeri Singa dengan signifikan.

Singapura perlu sesuatu yang baru. Rasanya selling point Changi sebagai bandara terbaik dunia bisa ditingkatkan dengan mengadirkan Jewel. Semua brand produk tersohor di Singapura diboyong ke Jewel sehingga orang tidak perlu ke Orcard untuk belanja.

Setelah lelah naik turun menikmati Jewel perut-perut yang lapar dimanjakan dengan beragam pilihan resto dan kafe. Tak tanggung-tanggung, resto berkelas dunia seperti Shake Shack (gerai makanan cepat saji pertama Amerika yang berasal dari New York), Burger and Lobster (asal London), Laderach (cokelat asal Swiss), dan Pink Fish (restoran seafood cepat saji pertama di dunia) hadir di sini. Dan kini seolah Jewel menjadi referensi baru bagi foodies di Asia Tenggara bahkan Asia.

Sudah terbayang bukan berapa banyak uang yang berputar di Jewel?

Galeri Brand Lokal

Ternyata 280 toko dan resto tidak didominasi oleh brand tersohor, produk lokal juga mendapat tempat tak kalah prestigius. Jadi jangan heran jika Emack & Bolio’s, JW360 ̊, Lavender, OYSHO,dan Pokeemon Center Singapore hadir dengan konsep outlet yang niat banget.

Dengan bangga mereka bersanding dengan brand-brand internasional sehingga Jewel menjadi galeri bagi produk lokal yang mungkin selama ini tidak banyak mendapatkan kesempatan untuk dilihat lebih detail.

Soal harga? Ah sama saja dengan tempat lain di Singapura. Jadi bagi mereka yang hanya transit ke Singapura tak perlu jauh-jauh ke kota. Cukup melangkah melalui junction yang terhubung dengan tiga terminal ke Jewel, sudah mendapatkan semua. Mulai dari mengisi perut, jalan-jalan santai sampai berburu barang bermerk.

Inovasi Marketing

Urusan soal marketing dan branding produk, Singapura memang jagonya. Oleh karena itu saya selalu memperhatikan hal-hal detail yang berkaitan dengan promosi wisata negara ini.

Saya sempat tertarik ketika melihat kuliner lengkap tertata rapi di atas meja di sebuah restoran terbuka di Canopy Park. Awalnya saya pikir ini pesanan salah satu tamu namun belakangan saya baru tahu kalau ini sebuah display yang dapat difoto oleh semua orang.

Bagi rakjel (rakyat jelata) seperti saya yang hanya mampu jalan-jalan gratisan ke Jewel tanpa membeli apapun, jelas sebuah kesempatan emas. Display ini bisa jadi bahan pamer aka eksistensi di media sosial bukan?

Walau palsu tapi jelas ini bermanfaat bagi si empu resto, jika sehari saja fotonya diunggah oleh 10 rakyat jelata akan menjadi alat pemasaran yang jitu. Kalikan jika 365 hari dan satu postingan dilihat oleh 50 orang saja. Tak perlu membayar buzzer otomatis informasi tersebar di dunia maya. Strategi marketing digital seperti ini belum pernah saya lihat di bisnis kuliner restoran di Indonesia.

Pulang Membawa Kenangan

Hal lain yang meninggalkan kesan mendalam ketika jalan-jalan ke Jewel ada perjumpaan dengan seorang kartunis bernama Adam Chua. Pria berusia 40 tahunan ini dengan piawai menggambar pengunjung anak-anak hanya dalam 3 menit saja. Dan semua ini gratis tanpa dibayar oleh pengunjung atau tamu, sepertinya pihak Jewel yang membayar Adam.

Kehadiran dan aktivitas Adam menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung. Seorang anak lelaki berteriak kegirangan ketika tanpa diduga gambar kartunnya mengenakan pakaian super hero. Hal-hal ini memang terasa ringan namun membangkitkan rasa dan kenangan akan Jewel tidak terlupakan.

Sayangnya Adam hanya memberikan kesempatan 20 anak untuk digambar tapi tidak mengapa jika hari ini ada 20 anak yang berbagi kenangan tentang Jewel besok melalui foto yang diunggah akan lebih banyak lagi.

Saya suka sangat cara Singapura yang mensinergikan industri kreatif dengan pariwisata. Melibatkan para pengerajin dan artis untuk membangun industri pariwsata dengan kekuatannya masing-masing. Semuanya terkonsep sangat baik dan saling mendukung satu dengan yang lain.

Apakah Jewel ini saja? Oh tidak, masih ada kejutan lain di Jewel. Jelang bulan Juni , Canopy Bridge akan dibuka dan menyajikan atraksi lain dari air terjun buatan senilai 17,75 trilyun rupiah.

Besar banget ya Kak biaya untuk membangun Jewel. Jangan berpikir mahal untuk sebuah investasi jangka panjang yang mampu menggerakan perekonomian dan hajat hidup orang banyak.

Tanpa berpikir berapa yang negara atau pemerintah daerah dapatkan (seperti kebanyakan tempat wisata Indonesia) paling tidak uang yang berputar dari bisnis wisata dan industri kreatif mampu mengurangi pengangguran dan menggerakan roda ekonomi.

Lalu kapan negara kita berpikir bahwa industri pariwisata butuh investasi jangka panjang tanpa berpikir berapa uang yang didapat dari tiket masuk tempat wisata, parkir kendaraan, retribusi kebersihan dan kutipan toilet umum.

4 Comments on “Jewel Changi Airport – Mensinergikan Pariwisata dan Industri Kreatif

  1. Wah, Jewel Changi kayaknya seru ya. Sayang kemarin waktu pulang ke Jakarta sudah nggak keburu gara-gara telat berangkat dari pelabuhan Batam Center dan ransel sempat kelupaan bawa di imigrasi HarbourFront. Sudah duduk manis di MRT tinggal nunggu kereta berangkat.. eh kok ransel saya tidak ada! Panic mode jadinya. Buru-buru keluar dari kereta sambil mikir dimana saya tinggalin itu ransel. Mungkin di imigrasi karena saya tidak mampir kemana-mana. Setelah dicek di imigrasi memang tasnya ada disana. Ini gara-gara kebanyakan bawa barang. Bawa 2 koper, 1 mesin jahit portabel dan ransel.

    Pungutan toilet umum itu seharusnya tidak ada tapi ada yang lebih parah lagi. Sewaktu saya ke Candi Borobudur tahun 1996 ada papan pengumuman di depan toilet bahwa turis asing dikutip biaya lebih mahal untuk penggunaan toilet. Itu kan keterlaluan. Kalau tiket masuk ke Candinya berbeda untuk turis asing masih okelah walaupun saya tidak setuju dengan itu.

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: