Curahan

Hadiah Ulang Tahun Untuk Ponakanku Fina

Ketakutan terbesar dalam hidup ini adalah melihat dirimu semakin besar, bukannya apa-apa itu artinya Oom semakin tua :D. Selain akan banyak berdikusi pasti kita sering akan berdebat karena terlalu banyak yang ingin kamu tahu. Termasuk kapan Oom akan menikah dan mengapa sampai sekarang Oom tampan tetap menjomblo.

Tepat 3 Januari 2019 usiamu 13 tahun, dan kini kamu menjadi remaja putri yang semakin dewasa bukan anak-anak lagi.

“Selamat Ulang tahun Mbak Fina.” Sebaris pesan pendek saya tuliskan di WA

“Terimakasih Oom.”

“Dapat hadiah apa dari Bunda?”

“Nggak ada…” Lalu si Om juga nggak menawarkan apalagi menjajikan hadiah. Ya bagi keluarga kami, hari ulang tahun hanya deretan angka pengingat tanggal lahir. Tidak pernah ada perayaan apapun apalagi kado. Kalau ingin hadiah atau sekedar makan enak bersama, di hari biasa bisa juga kan?

“Oh iya, ini ulang tahun kamu yang ke berapa ya?” Ya ampun Oom macam apa aku ini? Masa ulang tahun dan umur ponakan yang hanya dua orang lupa.

“Tiga Belas Om.”

Keputusan Besar

Ada kekhawatiran ketika tahun lalu Fina memutuskan untuk masuk pesantren, tinggal jauh dari rumah dan orang tua. Saya sempat bertanya kepada Ibu apa tidak terlalu kecil tapi katanya anaknya yang minta sendiri.

“Bener Fin kamu mau sekolah di boarding school?” Tanya saya kepada Fina usai menerima ijazah.

“Iya Om.”

“Memang ada teman SD mu yang boarding school juga?”

“Enggak, sepertinya di sekolah cuma aku.”

“Lalu kamu pilih boarding school bukan menghindari omelan Bunda atau Mbah ti kan? Guru-guru di sana lebih galak dari Mbah ti lho.”

“Ya enggaklah. Oom ini kaya teman-temanku lho nakut-nakutin.” Pasalnya beberapa hari sebelumnya Fina curhat kalau gank SDnya protes, mengapa ia masuk boarding school, nanti sepulang dari boarding school tahu-tahu sudah pakai cadar.

“Kalau kamu nggak bangun subuhan bisa disiram air.” Dan anaknya cuma nyengir saja ketika digoda begitu.

Anaknya cuma senyum aja pas diceritakan seremnya tinggal di asrama.

Ketika seorang anak ingin masuk pesantren atas kemaunnya sendiri itu sebuah anugerah bagi orangtuanya tapi sejujurnya hati saya kok belum tega. Apalagi ponakan saya ini tipe anak yang sulit makan kalau tidak dipaksa makan nggak akan makan. Tapi akhirnya ibu meyakinkan, mungkin ini takdir Allah agar ia mendapatkan pendidikan dunia dan agama yang lebih baik.

Ibu berkatya bahwa rasanya dengan kesibukan kedua orang tua Fina akan sulit mengawasi jika bersekolah di Bandar Lampung. Jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh ditambah kegiatan sekolah yang super padat, anak-anak kehabisan waktu untuk melakukan hal lain seperti bersosialisasi di sekitar rumah dan kalau sudah di rumah pilihannya adalah gawai.

Akhirnya perasaan ini semakin ikhlas, ketika pertengahanan tahun lalu kami sekeluarga melihat langsung sekolah Fina yang baru. Sebuah pesantren moderen di Subang yang lokasinya di tengah kebun karet tapi memiliki fasilitas yang lengkap.

“Fin di sini nggak ada sinyal hape kan?”

“Ada sih om tapi nggak berguna juga karena nggak boleh pegang hape.”

“Oh…” Alhamdulilah anaknya sadar bakal diet gawai yang artinya dia akan lebih punya waktu untuk melakukan aktivitas lain.

Pulang Bersama

Setelah liburan Idul Fitri tahun lalu saya tidak pernah bertemu Fina lagi sampai akhirnya ia masuk asrama. Sempat sih beberapa kali kami mengobrol karena setiap hari Selasa, ia diberikan kesempatan untuk menelepon keluarga. Selain liburan semesteran sekolah ini memiliki waktu libur plesir satu minggu setiap tiga bulan. Dan jelang libur natal kemarin saya kebetulan akan pulang lalu kita janjian di bandara di Sukarno Hatta.

Anaknya senang banget bisa pulang bareng Omnya. Ini bukan momen pertama kita traveling bersama tapi ini kebersamaan di bandara bersama. Awalnya saya mau ngevlog tapi begitu bertemu dengan guru dan beberapa teman Fina jadi sungkan.

Selama menunggu pesawat kita lebih banyak mengobrol dan saya merasa ponakan jauh lebih dewasa. Tinggal di asrama dan jauh dari orang tua memaksa anak-anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi teman-temannya berasal dari keluarga dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Dan sepertinya dia mulai mengerti bahwa toleransi dan kerendahan hati adalah kunci untuk menawarkan perbedaan dan kesalahpahaman.

Salah satu pengalaman yang membuatnya semakin mengerti tentang kehidupan, ketika teman sekamarnya dijauhi karena sering diam seperti orang kesurupan. Namun sesungguhnya anak ini depresi berat karena ayahnya meninggal, lalu keluarga besarnya memasukan ia ke boarding school. Pada satu kesempatan, Ibu saya berpesan kepada Fina bahwa jangan jauhi temannya, sebisa mungkin ajak ia mengobrol. Dan benar saja ketika mengobrol si anak tidak pernah mengalami ketegangan lagi yang membuatnya terdiam mirip orang kesurupan.

Tinggal di asrama membuat anak belajar dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Terkadang saya juga dibuat geli dengan curhatnya tentang senior di sekolah.. “Om tahu nggak, kita anak-anak SMP suka dibilang nggak penting sama anak SMA.”

“Memang nggak penting dimana? Kan semua sama-sama penting, sama-sama bayar.”

“Nggak tahu. Kalau ada anak SMP lewat, kakak SMA mukanya judes-judes gitu.”

“Tapi sesama anak-anak SMP nggak judes-judesan kan?”

“Eh ada yang judes kaya kamar X, anak-anaknya suka judes ngeliyatin aku.”

“Kamunya judes duluan kali…”

“Ih enggak lah Om. Oh iya aku mau cerita waktu itu pas aku ngeMC anak-anak Ikhwan ada yang ngintip.”

“Kok kamu tahu diintip?”

“Ya mereka itu ngeliyatin dari jendela.

“Kalau kamu tahu diintip berarti kamu ngelirik juga dong.”

“He he he iya. Tapi kalau yang intip ganteng nggak apa-apa sih kaya Kakak SMA yang indo Jerman.”

“Aduh… ternyata ponakanku sudah tahu cowok ganteng.” Ya begitula percakapan nggak penting ponakan dan Omnya.

“Om, Gisel dengan Gading Martin beneran jadi cerai?” Celoteh ponakan usai menyalakan gawai setelah hiatus beberapa bulan.

“Itu berita sudah lama kali?”

“Tapi kan aku baru tahu, baru buka hape.” Ponakan saya sibuk dengan hapenya dan tidak lama semua laman media sosialnya penuh dengan foto dan status baru selama di bandara. Ya udah nggak apa-apa asal tidak membuka medsos Oom nanti kamu akan melihat foto-foto nista.

Layaknya ABG jaman now sepanjang penerbangan Jakarta-Lampung Fina rajin berfoto dan berselfie. Kalau melihat seperti ini aku jadi salah tingkah, mau ikut-ikutan foto takut dibilang nggak tahu umur. Tapi sebagai Om Om narsis pengan juga sih masuk instastory ponakan. Wakakakakka.

Banyak Yang Berubah

Sebagai orang tua (duh merasa tua) terkadang kita sering menganggap anak adalah anak-anak padahal dengan berjalannya waktu mereka tumbuh dewasa dan layak menentukan hidupn dan memiliki pemikiran sendiri.

Seperti obrolan pagi ini, saya dan ponakan sempat berdiskusi topik yang nggak berat-berat ama seperti toleransi, hak dan kewajiban. Saya tidak pernah menyangka bahwa pertanyaan dan pernyataan akan sekritis ini. Pengalaman di luar rumah jelas membuka wawasan dan mengusik rasa ingin tahunya. Ia ingin protes kepada teman-teman sekamarnya, mengapa ia selalu mendapat tugas membangunkan saat pagi dan ketika sekamar kesiangan menjadi tanggung jawabnya.

“Tapi kenapa aku Om?”

“Ya mungkin karena kamu yang bisa bangun pagi.”

“Tapi nggak tiap hari juga kali.”

“Ya mungkin Allah tahu kamu di rumah malas bangun pag, jadi…”

“Apaan sih Oom?”

“Eh bener lho. Kaya pagi ini, sholat subuh harus dibangunin Mbah Ti.”

“Sekali-kali. Aku di asrama nggak pernah bangun siang…”

“Tapi enakan di rumah apa di asrama sih?”

“Hmmm sama aja. Tapi kalau makanan enak di rumah.”

“Pantas sekarang makannya banyak.”

“Iya dan timbangan aku naik dan sekarang suka sayur.” Suatu kemajuan yang saya bilang cukup berarti karena menyuruh Fina makan itu sama susahnya meminta dia untuk tidak membaca komik dan bermain gawai di akhir pekan.

“Pelajarannya susah nggak di sana?”

“Karena aku dari sekolah dasar biasa, aku nggak terlalu ngerti bahasa Arab. Tapi sekarang lumayanlah. Nah kalau dulu kalau mau ujian aku nggak pernah belajar bisa rangking 2 atau 3. Sekarang kayaknya nggak mungkin deh Om.”

“Nah ketahuan kan sekarang kalau dulu suka nggak belajar.”

“Ya kan yang penting bisa bukan belajarnya.”

“Iya juga sih. Tapi jadi tahu kan bahwa di atas langit ada langit lagi dan kita tetap harus belajar.”

“Bener Om, anak di pulau Jawa itu pintar-pintar lho apalagi dari SD Al Azhar.”

“Semua anak Indonesia itu pintar-pintar kalau Jawa lebih pintar itu soal kesempatan saja. Eh kok kamu nggak pernah jodoh-jodohin Oom dengan gurumu lagi”

“Hmmmm… Gini ya Om.” Hening sejenak. “Guru-guru aku itu masih muda-muda dan rata yang seumuran Oom sudah pada nikah semua. Jadi nggak ada yang cocok dengan Oom.”

Fina akhirnya lelah menjodohkan Omnya kemana-mana.

Oom lebih hening lagi lalu nangis.

Aku nggak pernah merasa setua ini lho. Tapi jelas tahun ini beda banget soalnya ponakanku biasanya rajin mempromosikan pamannya tapi sekarang tidak terlalu antusias. Dulu ketika duduk TK sudah marketingin pamanya dengan dalih ingin punya tante. *ngakak*

Dan aku nggak kaget juga kalau media sosialku tetiba banyak follower misterius, ternyata sudah dibagikan ke guru-gurunya yang masih single. Tadinya sih sempat GR kalau tahun ini bakal ada follower misterius baru dari Subang tapi ternyata ponakan sudah lelah atau dia sudah mulai sadar bahwa bahwa mencari pasangan hidup nggak semudah mencari pacar di tinder.

Ya Nak kamu sudah bisa berpikir realistis… Bahwa mencari pasangan hidup nggak mudah kalau yang disuruh kawin nggak mau kawin.


5 tanggapan untuk “Hadiah Ulang Tahun Untuk Ponakanku Fina”

  1. Haha cerita yang mengasyikkan. Aku seolah ada di dalam pesawat
    . Hihi. Semoga oom nya cepet dapet jodoh yaa. Amiiinn..
    Kalo ke subang, jagan lupa mampir ke Sumedang ya, Fina 😂

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s