Repackage Visit Indonesia Year

Mari Membaca Surat Untuk Pak Mentri
Mari Membaca Surat Untuk Pak Mentri

 

Dear Bapak Mentri Pariwisata Indonesia terbaru, Arief Yahya.

Perkenalkan. Saya Danan Wahyu Sumirat. Rakyat Indonesia penghobi jalan-jalan murah. Kalau sekarang lebih suka ke Singapura bukannya nasionalisme  meluruh. Tapi saya baru saja dimutasi ke Batam yang hanya sepelemparan batu dari Singapura. Yakinlah saya tak akan membandingkan negeri ini dengan negara tetangga karena Indonesia itu indah.

Selamat kepada Bapak yang   sukses  me-launching e-tourism Indonesia. Promosi  wisata Indonesia dengan berplatform  digital yang  melahirkan 7 layanan yang mengintegrasikan seluruh kegiatan pariwisata.

Meski terkesan baru dan moderen rasanya seperti  de ja vu. Masih teringat dibenak saya ketika Sapta Pesona mengiringi lahirnya Visit Indonesia Year 1991.  Sempat tak terdengar  ketika bangsa ini sibuk bereformasi namun tahun 2008 Visit Indonesia kembali hadir dengan  logo yang  lebih segar. Esensinya tetap sama jualan pariwisata Indonesia.

Dengan logo  baru  banyak yang berharap program ini tidak hanya sekedar slogan. Masih dalam semangat reformasi, tahun berikunya semangat  Visit Indonesia Year menjelma menjadi kunjungan wisata  di  daerah seperti Visit Lampung Year 2009, Visit Batam 2010 dan dan visi-visit lainnya.

Meski lahir dalam era otonomi daerah nyatanya program visit-visitan  dananya masih menggantungkan diri dari pusat. Beberapa daerah sukses mempromosikan potensi  daerahnya dan menjelma menjadi daerah wisata yang diperhitungkan salah satunya Sawah Lunto.

Sedangkan lainnya (maaf) hanya menghabiskan dana. Usai membuat website dan mencetak pamflet tidak ada kelanjutannya . Gelaran festival wisata yang  kadang warga lokal tak tahu apa itu menjadi agenda tahunan. Mengundang dan menjamu duta besar negara sahabat sekaligus pejabat pusat. Lebih bernuansa  jalan-jalan bersama dibandingkan promosi wisata.

Era digital mengubah banyak hal, orang lebih melek teknologi dan jalan-jalan. Memperoleh informasi wisata semudah membalikan telapak tangan. Tapi bukan dari situs dinas pariwisata daerah yang tak pernah di-update infonya tapi berganti tampilan setiap tahun. Terus dari mana? Blog milik jurnalisme warga penghobi melancong populer dengan julukan travel blogger.

Seolah tak ingin ketinggalan tren baru. Kementrian Pariwisata yang kini menambahkan label Ekonomi Kreatif membuat akun di dunia maya , rutin  mengunggah foto destinasi wisata  Indonesia. Memang foto bisa bercerita banyak hal. Tapi menjual destinasi wisata Indonesia bukan  sekedar mengunggah gambar di instagram dan twitter.

Mau jualan ayam goreng tapi pembeli dikasih foto dan ayamnya saja.  Ingin menikmati silakan dimasak sendiri, cari piring sendiri sampai tempat duduk sendiri dan kadang harus antri. Begitulah kira-kira analogi pariwisata Indonesia. Jika ditanya siapa yang akan melayani pembeli, maka akan menjawab,  “Oh, Maaf mas tugas saya cuma bagi-bagi foto saja.”

Teringat curhat penduduk pelabuhan Ketapang, Kabupaten Pasawaran Lampung. Sejak dunia  maya  memperkenalkan Teluk Lampung sebagai destinasi wisata baru. Jelang akhir pekan wisatawan dari Jakarta dan Palembang membanjiri pelabuhan Ketapang sebagai titik awal menuju pulau Tanjung Putus, Kelagian dan Pahawang. Permintaan sewa kapal dan perlengkapan wisata dunia bawah laut meningkat.  Namun sayang penduduk lokal tak memiliki modal yang cukup. Jika dinas terkait ditanya  tidak pernah ada jawaban  memuaskan.

“Tugas kami hanya mempromosikan dan mendata”. Bukankah harusnya semua pihak bersinergi?  Kisah di atas hanya salah satu  masalah  destinasi wisata baru. Belum lagi infrastruktur dan pungutan liar.

Sekali lagi maaf Pak. Bukannya saya mengkritik program e-tourism, sekedar memberi masukan. Harapan agar setiap daerah menyumbangkan konten di WOI TV. Terus dana pembuatan konten bergantung dari pusat? Jangan sampai program pembuatan konten WOI TV menjadi ajang menghabiskan buget tahunan. Kisahnya kurang lebih mirip dengan website wisata daerah  yang tak pernah diperbaharui informasinya  tapi setiap tahun menghabiskan uang negara.

Meski terlambat saya cukup bangga dengan ide mobile aplikasi di e-tourism. Bukan sok luar negeri namun coba lihat withlocals. Aplikasi mobile yang menjembatani wisatawan dan penyedia jasa wisata. Semua orang bisa “menjual” potensi wisata. Namun bagaimana dengan daerah yang tidak terjangkau internet? Maaf Pak internet dan telekomunikasi bukan tanggung jawab Bapak lagi ya, saya lupa.

Tak ada yang salah dengan mengemas ulang Visit Indonesia Year. Tapi untuk apa kemasannya berganti tiap periode pemerintahan jika kualitas isinya tak pernah meningkat.

Maaf Pak jika isi surat ini begitu nyinyir. Tapi mungkin itulah identitas ideal blogger, jujur, lugas dan menulis tanpa beban. Tidak ada ketakutan tidak diajak jalan-jalan gratis oleh kementrian Bapak karena terlalu banyak mengkritik.

Akhir kata saya ucapan terimakasih. Jika Bapak masih sempat meluangkan waktu membaca surat ini

 

Salam Cinta Indonesia,

 

Danan Wahyu Sumirat

 

Curahan hati rekan blogger silakan kunjungi surat yang lain di :

Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka Kepada Menteri Pariwisata
Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat Untuk Menteri Pariwisata
Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia, Dan Segala Problematikanya
Parahita Satiti – Surat Untuk Pak Arief Yahya
Titi Akmar – Secercah Asa Untuk Pariwisata Indonesia
Vika Octavia – Pariwisata Indonesia; Telur dulu, atau Ayam dulu?
Lenny Lim – Surat untuk menteri pariwisata
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal Untuk Pariwisata Indonesia
Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah pada Malaysia
Matius Teguh Nugroho – Merenda Asa Untuk Pariwisata Kota Indonesia
Bobby Ertanto – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
Danan Wahyu – Repackage Visit Indonesia Year
Firsta Yunida – Tourism in Indonesia
Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan Menurut Seorang Biolog, Pejalan dan Blogger

64 pemikiran pada “Repackage Visit Indonesia Year

  1. Setuju ni, di Indonesia tempat wisatanya hampir sebagian besar tidak ada interkoneksi dan ga ada perbaikan di sektor pengembangan dan perawatan tempat wisatanya.

    Suka

      1. Soalnya mungkin ga pernah ada yang benar2 memulai untuk memperbaiki itu, cuma rencana ga ada yang action (mungkiiiin) ga boleh su’udzon sama pemerintah hehe

        Suka

      2. ngga su udzon sih tapi kok tiap ganti pemerintah ganti program kenapa ngga pernah bikin blue print matang kaya korea. Tahu ngga ternyata budaya K-POP itu blue printnya sudah aja sejak tahun 80an dan terus dikembangkan sampai skrg KPOP jadi trend

        Suka

  2. Eh aku suka bagian ini Om => Tak ada yang salah dengan mengemas ulang Visit Indonesia Year. Tapi untuk apa kemasannya berganti tiap periode pemerintahan jika kualitas isinya tak pernah meningkat.

    Jadi inget waktu skripsi dulu, kan bahas2 soal perencanaan kawasan wisata. Lalu, ada salah satu obyek yang konon sengaja tidak dibangun/kembangkan (padahal potensinya tinggi) karena masih belum jelas dinas mana yang menjadi penanggungjawabnya.

    Semoga suratmu ini bisa dijadikan pertimbangan juga untuk bapak entri ya Om ^_^

    Suka

  3. Saya sepakat Mas Danan, mengemas dan memoles ulang itu perlu sinergi. Kasarannya, untuk apa jika sekadar berkehendak dan berkemauan pada sesuatu yang percuma.

    Suka

  4. Mas Danan, isi suratnya tepat sasaran banget! Semoga pihak kementerian bersedia membuka hati, telinga, dan mata terhadap realita di lapangan. Tapi Mas, aku sering nelangsa juga klo sebuah daerah sudah famous, kemungkinan besar tempat tersebut bakal banyak sampah dan identitas lokalnya “bergeser”. Mari ambil contoh: Gili Trawangan. *sigh*

    Suka

    1. karena banyak yang cuma membangun obyek wisatanya saja, dan lupa untuk membangun sumber daya manusia di sana. investor datang untuk patok sana sini, tapi tidak melibatkan bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi dampak pariwisata. mereka menjadi penonton atau yang ditonton.
      Ini yang mesti diubah… 🙂

      Suka

      1. Setuju banget sama Mbak Indri. Masyarakat lokal lupa untuk dibekali bagaimana menyikapi banyaknya masyarakat domestik dan/atau int’l yang datang. Aku rasa kita sebagai traveller bisa mengambil peran di situ. Misalnya tetap menghormati local wisdom masing-masing daerah.

        Suka

  5. “Oh, Maaf mas tugas saya cuma bagi-bagi foto saja.” <- Jadi ingat pas minta pamflet wisata di Dinas Pariwisata Aceh dan nanya soal tempat wisata yg agak jauh dari Banda Aceh pegawainya tidak tahu-menahu.

    Sepertinya para pegawai dinas pariwisata atau Kementerian Pariwisata harus dibekali dulu deh tentang tempat-tempat wisata. Paling gak para pegawainya juga pernah traveling ke destinasi2 wisata itu

    Suka

  6. ya … ya … umumnya gelaran wisata itu semacam ajang temu kangen, nggak berdampak pada warga lokal. eh ada dink dampaknya: ditinggalin sampah

    baru tahu kamu suka nyinyir kk 😉

    Suka

  7. Mas Danaaaaaannn, tulisannya ngena banget! Iya iya, harusnya semua pihak bersinergi. Nggak cuma sekedar promosi tanpa memperlengkapi.
    (Eh kalimatnya bagus dijadiin slogan tuh)
    (Setiap akhir kata berakhiran “i”) #abaikan

    Suka

  8. Dalam anggapan pribadi “Money oriented” lah yang menjadi permasalahan besar di Indonesia. Sepertinya tidak hanya aspek pariwisata, hampir semua aspek.

    Pejabat bekerja dengan Pamrih, “Apa untungnya buat saya?”

    Suka

  9. Aha! Menarik ini. Soal cara menjual dan barang yang dijual memang harus singkron agar pembeli bukan sekedar tak kecewa, tapi juga balik lagi. Sayangnya di Indonesia barang yang dijual banyak yang bagus, tapi belum dipoles dan cara jualannya juga belum sip. Contoh paling nyata: Pulau Alor dan pulau2 kecil sekitarnya itu luar biasa… tautan ini cuma ujung dari gunung es potensi yg belum dikelola: http://lifetimejourney.me/2014/12/03/nyebur-ke-laut-pas-arus-dingin-di-pulau-alor-ntt/

    Suka

  10. Nggak apa nyinyir, Mas, kalau memang kenyataannya demikian.
    Memang masih banyak masalah. Memang masih banyak yang harus dibenahi. Semoga tulisan-tulisan ini bisa sampai ke Pak Menteri dan tidak sekadar dibaca tapi bisa jadi cambuk buat lebih baik lagi :hihi.

    Suka

  11. Mamang betul mas, sudah seharusnya pemerintah lebih menghemat anggaran negara untuk promosi dan lebih memperhatikan obyek yang akan dijual.

    Seperti yang kita ketahui, sektor pariwisata berperan penting dalam pembangunan ekonomi daerah atau bahkan dalam pembangunan ekonomi negara Indonesia.

    Saya juga sedang membuat blog yang akan mengangkat berbagai aneka wisata daerah, supaya bisa membantu menggerakkan ekonomi lokal mas.

    Salam hangat dari Magelang,
    Damas

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s