Pulang Melewati Dua Lautan: Tanjung Pandan – Boom Baru

“Aku pulang…. bertahun-tahun… ku di negeri orang… oh Malaysia “. Syair sebuah lagu melayu sayup terdengar mengalun lembut membangunkan tidur saya. Ternyata sudah pukul 6 kurang nampaknya saya harus bergegas ke pelabuhan Tanjung Pandan. Setelah mandi , sarapan dan menyelesaikan administrasi pembayaran kamar  sebesar 55 ribu sayapun check out daripenginapan . Awalnya saya ingin bangun lebih pagi untuk “hunting” menyaksikan pasar ikan di pagi hari. Namun apa daya, badan ini tak mau berkompromi setelah lelah tadi malam berkeliling kota.

Pukul 6:30 saya sudah berada di depan loket kapal pelabuhan Tanjung Pandan, namun petugas belum datang. Beberapa calon penumpang sudah berdatangan mengantri di sisi loket lain untuk membeli tiket boarding pass. Baru pertama kali ini naik kapal laut ada boarding pass, seperti di bandara.

Tepat jam 7 waktu setempat loket pembelian tiket kapal dibuka. Jujur awalnya saya agak takut tidak kebagian tiket karena sebagian besar penumpang sudah membeli tiket jauh-jauh hari tidak seperti saya yang “go show“. Dengan pertimbangan akan melalui penyebrangan ke Pangkal Pinang selama 4,5 jam , sayapun membeli tiket kelas VIP seharga 200 ribu, lebih mahal 30 ribu dibandingkan kelas Executive. Sepuluh menit kemudian ruang tunggu penumpang dibuka. Meskipun pelabuhan ini kecil tapi tampilannya lebih moderen , dengan semua dinding yang hampir terbuat dari kaca. Pelabuhan ini hampir mirip seperti sebuah bandar udara.

Kapal cepat Express yang saya tumpangi akhirnya berangkat pukul 07:30. Berharap cuaca pagi ini tetap bagus sehingga kapal bisa tepat waktu sampai di Pangkal Pinang.  Perjalanan kali ini lebih banyak saya lewatkan dengan tidur dan beristirahat. Dua film layar lebar diputar penuh untuk menemani perjalanan kali ini.

Tepat jam 12 siang kapalpun sampai di pelabuhan Pangkal Pinang, Bangka.  Di depan dermaga kapal telah siap sebuah bus pariwisata menuju pelabuhan Muntok untuk menyebrang ke Bom Baru , Palembang. Saya baru tahu ternyata bis ini diperuntukan bagi penumpang yang membeli tiket terusan Tanjung Pandan-Pangkal Pinang-Muntok-Bom Baru. Saya juga baru ternyata ada paket tiket terusan seperti ini. Karena saya tidak membeli tiket terusan sayapun membayar sebesar 50 ribu untuk sampai ke pelabuhan Muntok.

Awalnya saya ingin singgah satu atau dua malam di Bangka untuk menikmati keindahan pantai dan berwisata kuliner. Namun teman yang akan saya datangi di Bangka sedang dinas ke Belitung. Secara umum kota Pangkal Pinang lebih ramai dibandingkan Kota Tanjung Pandan. Setelah melewati perjalanan selama 3 jam akhirnya sampai di pelabuhan Muntok. Ternyata pelabuhan di sini indah dengan pasir putih dan sebuah mercusuar.

Untuk sampai ke pelabuhan Bom Baru Palembang kembali saya menggunakan jasa kapal cepat Bahari Express dengan tarif tiket dan boarding pas sebesar 195 ribu rupiah. Sebetulnya ada pilihan lain dengan menggunakan kapal Ferry yang lebih murah. Di Jadwalkan pukul 5 sore kapal akan berangkat dan sampai di Bom Baru besok pagi jam 7 pagi.  Dengan pertimbangan rasa lelah dan perjalanan yang terlalu panjang saya memutuskan naik kapal cepat. Berharap bisa mengejar Travel Ratu Intan Permata Palembang-Jambi pada jam 8 malam.

Menjelang pukul tiga sore kapal pun meninggalkan pelabuhan Muntok. Sengaja dalam penyebrangan kali ini saya duduk di area terbuka berharap dapat menikmati sunset di sore hari. Pemandangan yang paling umum adalah berpapasan dengan perahu tongkang bermuatan batubara atau kapal bermuatan minyak.

Senja mulai merayap masuk ke  setiap sudut muara yang kami lewati, pemandangan langit merona merah menggoda naluri saya untuk mengabadikan lewat bidikan kamera. Meskipun mentari malu- malu enggan keluar dari balik awan nanmun kemilau jingganya tetap terlihat memantul dipermukaan laut. Inilah pertama kali perjalanan saya menuju pelabuhan yang ada di kota Palembang.

Tepat pukul 18:30 kapal yang saya tumpangi akhirnya sandar di pelabuhan Bom Baru Palembang. Sebelum sandar sayapun disuguhkan pemandangan indah kiluan lampu yang ada di sepanjang bibir pantai. Melewati pabrik PUSRI dengan lampu terang benderang dan aroma amonia yang khas merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Melalui pelayaran dua kali dalam satu hari dan perjalanan darat antara Pangkal Pinang dan Muntok memberikan satu pengalaman batin bahwa inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kadang kita bisa merasakan terpaan angin cobaan kehidupan berkali kali dalam kehidupan dan melintasi jalan berbatu di daratan dalam satu waktu. Terimakasih Tuhan telah memberikan sekali lagi pengalaman hidup lewat satu perjalanan di Negeri Laskar Pelangi.

RELATED STORIES

22 thoughts on “Pulang Melewati Dua Lautan: Tanjung Pandan – Boom Baru

  1. Ping-balik: Hunting-Wrong Time and Wrong Place | Danan Wahyu Sumirat

  2. Ping-balik: Jejak Sang Laskar Gantong | Danan Wahyu Sumirat

  3. Ping-balik: Sesi Pemotretan Tak Terduga (Belitung) | Danan Wahyu Sumirat

  4. Ping-balik: Kelenteng Sang Dewi Laut | Danan Wahyu Sumirat

  5. Ping-balik: Satam Si Hitam Nan Misterius | Danan Wahyu Sumirat

  6. Ping-balik: Fotografi Jalanan & Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  7. Ping-balik: Sesi Pemotretan di Pulau Gede, Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  8. Ping-balik: Pulau Babi Kecil, Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  9. Ping-balik: Menjangkau Batu Tertinggi di Tanjung Tinggi | Danan Wahyu Sumirat

  10. Ping-balik: Sunset di Tanjung Tinggi | Danan Wahyu Sumirat

  11. Ping-balik: Pulau Gede (Babi Besar) Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  12. Ping-balik: Menyibak Layar Pulau Batu Berlayar | Danan Wahyu Sumirat

  13. Ping-balik: Danau Kaolin: Anugerah, Musibah, Berkah | Danan Wahyu Sumirat

  14. Ping-balik: Basah+Hujan+Lapar = Mie Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  15. Ping-balik: Beauty and Pose in Lengkuas Island | Danan Wahyu Sumirat

  16. Ping-balik: Tanjung Kelayang 10.10.11-12.10.11 | Danan Wahyu Sumirat

  17. Ping-balik: Merasakan Sari Laut di Tanjung Pandan | Danan Wahyu Sumirat

  18. Ping-balik: Langkah Pertama Pantai Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  19. Ping-balik: Melayang-layang Menuju Belitung | Danan Wahyu Sumirat

  20. Ping-balik: Sang Surya Tenggelam di Tanjung Pendam | Danan Wahyu Sumirat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s